Ini adalah postingan yang ku ambil dari postingan milik Mikke Susanto. Kekaguman ku pada lukisan karya Ir. Aas Rukasa lah yang membuatku ingin ikut memperkenalkan karya beliau di blog ini.
BIO: Warna, Terapi & Spiritualitas
(Pengantar Kuratorial)
Oleh Mikke Susanto
Mari sejenak kita perhatikan satu tarikan nafas dalam sebuah proses meditasi. Meskipun ’hanya’ satu tarikan, proses itu memiliki nilai, fungsi dan efek yang besar. Tentu saja tidak semua atau setiap orang mampu memaksimalkan tarikan napasnya dalam proses itu. Semua bergantung pada latihan yang dilakukan, atau level yang diperolehnya serta kemampuan konsentrasi dan kondisi seseorang pada saat melaksanakannya. Terlepas dari itu semua, alam tentu saja juga memberi pengaruh secara optimal.
Dari proses ini, hal-hal tertentu dapat dihasilkan. Seperti halnya pameran yang Anda nikmati ini. Semua ini merupakan hasil dari pergulatan dan pembauran antara proses estetik dan/sekaligus meditatif. Kedua hal tersebut kemudian diberdayakan untuk merespon berbagai persoalan. Terdapat banyak bayangan, fantasi serta ilusi yang memenuhi hampir pada setiap hal yang disentuh oleh pelukisnya.
Tentu saja pameran ini tidak berangkat dari persoalan kedalaman estetika seni (lukis) semata. Artinya karya-karya Aas harus disadari bukan sebagai sebuah karya seni semata dan dinilai dari perspektif seni rupa saja. Karya-karya lulusan Teknik Mesin ITB (1994) ini lebih banyak dikembangkan dan berawal dari berbagai pengalaman dalam mengolah energi alam (bio-energi) yang dimilikinya. Pengolahan energi yang secara formal juga menyertai profesinya saat ini (sebagai guru meditasi dan seni olah tubuh berbasis bioenergi, dan pendiri komunitas Cosmic-Link Bandung) yang dimanfaatkan secara positif, salah satunya dengan cara melukis. Ia sendiri melakukannya secara alamiah (otodidak) yang telah dimulai sejak kecil.
Berangkat dari latar di atas, maka pameran ini dimaksudkan sebagai bentuk pertemuan antara seni dan alam. Sebuah ruang yang berhasil menciptakan berbagai paduan gagasan visual dan pengalaman berinteraksi dengan alam. Seperti halnya prana (bahasa India Kuno), chi (taichi dalam bahasa Cina), dan ki (reiki, dalam bahasa Jepang) yang merupakan suatu energi daya hidup yang mengalir setiap saat. Mereka memiliki kecenderungan untuk terus berinteraksi. Interaksi yang terjadi pada setiap materi atau makhluk hidup dengan berbagai perubahannya yang kemudian diolah secara natural (bio-meditasi).
Di sini, lukisan-lukisan Aas bukanlah menggambarkan proses dan teknis mengenai bioenergi tersebut. Lukisan-lukisannya juga bukan merupakan petunjuk ilmiah (baca: gambar ilustrasi alam) kala energi tubuh itu bergerak. Pameran--atau tepatnya lukisan-lukisan--ini bertujuan lebih mengangkat berbagai pengalaman batin dan spiritualnya dalam melihat berbagai pergolakan energi maupun alam. Sehingga dengan pendekatan gaya abstraksi, ia bergerak dengan leluasa untuk menghasilkan gambaran dari pengalaman-pengalamannya selama ini.
Gaya abstraksi sendiri merupakan sebuah gaya dengan metode untuk mendapatkan pengertian melalui penyaringan terhadap gejala atau peristiwa. Dalam seni rupa, proses ini kerap menjadi jalan untuk menangkap secara sederhana dari sebuah objek/ peristiwa/ gejala. Namun hasil tangkapan berupa penyaringan objek tersebut dalam karya Aas mendapatkan kesan tambahan yaitu naratif dan liris. Gambaran-gambaran idenya seolah-olah sering bersifat cerita dan memberi kesan penuh perasaan (baca setiap keterangan di samping karya-karyanya).
Warna: Psikologis atau Permainan
Secara umum warna memang tidak sekadar berusaha mempengaruhi perasaan saja. Dalam beberapa aspek, pada akhirnya warna juga turut mempengaruhi fisik seseorang. Getaran-getaran warna yang ditangkap mata dan otak, kemudian turut mempengaruhi bagian organ lain. Biasanya ia berkoresponden melalui sensasi lalu mempengaruhi jiwa seseorang. Sehingga ia dapat menimbulkan efek yang bermacam-macam: panas, dingin, lembut, keras, tegang, kendor dan sebagainya.
Kanvas-kanvas Aas jelas bertaburan warna-warna. Ia jarang memakai satu atau dua warna saja dalam karyanya. Hal ini berbeda ketika para kaum Abstrak di Jerman maupun Abstrak Ekspresionisme (tepatnya para pelukis Color Field Painting di Amerika) yang memanfaatkan sedikit warna saja untuk memenuhi bidang kanvasnya. Mengapa demikian?
Saya kira hal penting kala melihat warna dalam karya-karya Aas adalah kita sedang menonton mental yang sedang ’bekerja’. Mental yang diselubungi oleh berbagai warna dan kondisi. Sehingga yang tumbuh di dalamnya merupakan sintesis atas berbagai hal. Dengan banyaknya warna, lukisan-lukisan Aas bisa menjelajahi segala hal dan bisa pula menghasilkan ribuan persepsi.
Warna-warna itu berkesan sedang menjelajahi perasaan, kadang emosional, duka, semangat, garang dan sebagainya. Warna-warnanya mengingatkan saya tentang sebuah perjalanan alam dari sesuatu yang asing sampai yang sangat dekat dengan kita semua. Warna-warnanya seperti membentuk objek-objek baru yang dapat menghantar kita pada dataran kesadaran-kesadaran tertentu.
Selain persoalan mental, terdapat pula latar belakang kultur yang menyebabkan warna dalam lukisan Aas menjadi sangat bervariasi. Karena ia berada dalam wilayah budaya, kerja, serta kondisi yang plural, maka aksen psikologisnya ikut terdominasi. Maka dalam sudut-sudut tertentu, ia juga senang menggunakan warna untuk permainan bentuk-bentuk objek. Artinya semangat’menghias’ sangat terasa dalam setiap karya-karyanya. Oleh sebab itu, tak salah bila abstraksi yang dilakukan Aas dalam hal ini adalah liris: abstraksi dengan berbagai perasaan.
Terapi: Penyembuhan atau Kenikmatan
Dalam kanvas-kanvasnya lalu muncul abstraksi tentang bentuk-bentuk alam (manusia, hewan, tumbuhan, objek/benda, dan gerakan alam). Sehingga banyak yang menganggap lukisannya sebagai terapi bagi orang lain maupun sebagai ungkapan pribadi bagi dirinya sendiri. Dominasi figur yang masih menonjol, sekalipun telah mengalami deformasi atau penyederhanaan, tetap banyak memberi simbolisasi tertentu.
Namun yang lebih dari itu adalah seberapa jauh persoalan bentuk dan warna menjadi sesuatu yang ’berfungsi’, seperti sebagai sebuah terapi?
Perlu diketahui bahwa tidak semua lukisan yang dibuat oleh Aas berasal dari khayalan semata. Sesekali Aas juga mengemukakan berbagai hasil temuan yang direkamnya menjadi objek karya, meskipun tanpa sketsa. Misalnya lukisan yang berjudul Canda Teman di Ulang Tahun, merupakan rekaman aura dari suasana pesta, hal ini menyiratkan bagaimana ia mengungkap suasana dan kemudian ditafsirkan dalam bentuk visual. Atau misalnya karya-karya yang diangkat dari pengalaman yang berhubungan dengan teman atau koleganya. Hal-hal seperti ini pada akhirnya merumuskan berbagai pesan-pesan yang dapat diterapkan sebagai sebuah bentuk nasehat atau terapi bagi yang lain.
Jika anda melihat kesenangan Aas mengeluarkan berbagai pernyataan (lihat setiap pesan dalam setiap karya) seolah-olah memberitakan sejauh mana pergulatan dirinya dengan ”objek” yang digelutinya. Ia tidak saja berpikir tentang visual, namun juga melakukan pergulatan maupun perjalanan meditatif atas suatu kajian yang hendak dilukisnya.
Setidaknya ia sedang menawarkan sebuah rekreasi warna sebagai bentuk terapi, entah untuk penyembuhan atau sekadar kenikmatan selubung warna, bagi para penontonnya. Secara khusus, dengan munculnya pernyataan pada setiap karya, penonton akan digiring untuk melakukan resepsi atas suatu objek, warna maupun suasana. Dengan kata lain, melalui pameran ini saya kira perjalanan menikmati sebuah karya tidak semata-mata dihidupkan oleh mata si penontonnya. Lewat pengantar dan konsep tertulis, pelukis dalam hal ini memberi ’peta perjalanan’ atas berbagai pengertian dan hal-hal lain di luar persoalan seni. Simulasi sedang digerakkan, pikiran sedang ditata, dan pengetahuan sedang dibuka. Nikmati saja...
Spiritualitas: Ilustrasi atau Kesadaran diri
Bicara perihal meditasi, tentu bicara perihal spiritualitas. Ia berhubungan dengan persoalan keilahian. Lebih jauh lagi berbagai bentuk meditasi melalui pernafasan, gerakan, mantra memiliki tujuan yang sama yaitu mencapai kesadaran sejati, pencerahan dan persatuan dengan Ilahi.
Secara singkat, bila merujuk dari berbagai karya lukis yang dihasilkan, tampaknya muncul beberapa hal penting dan menarik sehubungan dengan perihal spiritualitas.
Pertama munculnya banyak karya yang menggali persoalan energi alam. Maksudnya adalah berbagai masalah dan perihal energi tersebut kemudian diangkat sebagai bagian dari kesadaran tentang adanya kemampuan di luar masalah fisik, baik kemampuan alam maupun kemampuan diri manusia sendiri. Penonton diharapkan dapat mengekplorasinya dengan cara-cara tertentu misalnya untuk menggerakkan rasa cinta, penghargaan diri, keterbukaan, kemampuan beradaptasi, estetika, dan respon seni. Sebab kata Aas, ”Dari semua perasaan inilah kemampuan untuk fokus bisa ditumbuhkan”. Perasaan ini dapat dilihat seperti pada karya Mendengar Suara Hening, Accessing Magenta maupun karya Metamorfosis.
Kedua, terdapat pula karya-karya yang mencoba menggali dan bercerita tentang persoalan mistik dan hal yang bersifat spiritual, seperti pada kisah mistik pada karya Nini Anteh atau pada Kendi Tirta Kalimaya, dan karya A Little Thought about Paradox yang menceritakan pengalaman mistik Nabi Musa. Dalam hal ini lukisan-lukisan Aas tidak saja bercerita tentang suasana dan kisah-kisah mistik, namun juga mengarah pada kemampuan mistik energi alam yang ada di lingkungan sekitar kita (karya Twilight over Beach ) maupun kemampuan manusia (karya Stretching). Juga pada Gadis Lewat yang memberitakan perihal kemampuan daya tangkap seseorang pada sesuatu yang melintas cepat atau harus melewati berbagai cara pandang yang berbeda dari biasanya.
Ketiga, karya-karya Aas yang mencoba memberi kesadaran tentang hubungan antara manusia (dalam bahasa Arab: hablumminannas) dan hubungan dengan Tuhan (hablumminallah). Salah satu karya menarik yang dapat melukiskan hal ini adalah karya Menunjukkan Jalan maupun Mengajar Lotus. Satu karya mengali pertentangan antara hati dan logika, satu karya lain berupaya menguak perihal spiritualitas (baca pula: pengetahuan) yang tinggi. Karya Mengejar Lotus mengingatkan untuk tetap memiliki kerendah-hatian dan membumi. Artinya spiritualitas yang tinggi harus disempurnakan dengan tindakan yang multidimensi, dengan gerakan membumi.
Dari berbagai dimensi spiritual yang telah digambarkan di atas, dapat dicermati bahwa persoalan keilahian memang menjadi tajuk utama dalam karya-karya Aas. Ia tidak menggambarkan keindahan yang bersifat kasat mata, namun lebih ke persoalan psikologis. Dengan memakai pendekatan gaya abstraksi, saya kira semakin tepatlah ’simulasi’ yang dilakukan. Sebab dengan gaya tersebut ia dapat merangkum berbagai suasana psikologi yang beraneka warna, maupun mengaitkan kesadaran, ruang dan waktu secara bersamaan pula. Dapat dianggap bahwa apa yang tergambar dalam karya-karya Aas merupakan ’ilustrasi’ tentang konsep tentang persoalan meditasi yang sedang diarunginya selama ini. Lukisan-lukisannya seperti membantu para kolega (atau Anda sebagai penontonnya) untuk semakin cepat menangkap apa yang diungkapkan. Secara tidak langsung, lukisan dalam hal ini tidak terpisah dengan semangat dan ramuan ’ajaran-ajarannya’.
Dari apa yang dilukiskan Aas, satu hal penting yang menjadi perhatiannya adalah alam. Alam dalam hal ini tidak saja diolah secara objektif, tetapi ia dengan kreatif mengusung simbol-simbol baru yang berhubungan dengan semangat spiritualitas (dan juga moralitas). Lihat saja pada hampir semua lukisan, ia mengelola objek alam sebagai jalan untuk menemukan ’sesuatu yang lain’: sesuatu yang berhubungan dengan energi, sesuatu yang berhubungan dengan mental, bahkan sesuatu yang berhubungan dengan kekacauan yang kita hadapi saat ini (misalnya pada karya Konferensi Mawar Hijau yang memasalahkan penebangan hutan ilegal).
Jadi sudah saatnya, lewat karya-karya Aas, mari kita ungkap rahasia alam dan manfaatkan sejauh-jauhnya, tentu dengan kontrol, kreativitas dan kesadaran diri yang tinggi. Wallahualam bisawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar