Selasa, 31 Juli 2012

Solusi Bagi Penderita Penyakit Degeneratif

Divine Kretek, Rokok Sehat Bagi Penderita Penyakit Degeneratif

JAKARTA- Baru-baru ini Kelompok Studi Nano Sain Universitas Brawijaya Malang telah melakukan studi dampak positif asap rokok kretek melalui proses peluruhan radikal bebas yang dinamakan Divine Kretek.

Riset ini dilakukan Guru Besar Biologi Sel Universitas Brawijaya Malang, Profesor Dr. Sutiman B. Sumitro, bersama ahli Kimia-Fisika senior Dr. Gretta Zahar dan tim yang terdiri dari ahli bidang kedokteran, Kimia dan Fisika.

"Divine Kretek telah berhasil membantu memperbaiki kualitas hidup penderita berbagai penyakit degeneratif seperti kanker, stroke, altsheimer, gagal ginjal, hepatitis, spasmophile, myastemia, autism, cerebal palsy, dan down syndrom," kata Profesor Dr. Sutiman B. Sumitro dalam media gathering di Jakarta, Senin (7/2/2011).

Sutiman percaya, Divine Kretek temuannya itu dapat mengendalikan bahaya radikal bebas dan logam merkuri yang terkandung dalam darah. "Tim kami dapat mentrasformasikan rokok beracun menjadi rokok berasap sehat, tidak berbau, dan ramah lingkungan melalui Divine Kretek," ujarnya.

Selain itu, lanjutnya serangkaian uji coba terhadap kelompok hewan serta relawan perokok telah dilakukan. Asap ini diduga kuat mempercepat proses detoksifikasi karena mampu memperkecil racun tubuh pada skala nano (sepersemiliar meter). "Dalam bentuk nano, racun dapat keluar dari jaringan tubuh dan kulit tanpa merusak sehingga tidak meninggalkan bekas luka," ungkapnya.

Penemuan ini, menurut Sutiman, tentu dapat memberikan angin segar bagi dunia kedokteran internasional. Memakai pendekatan berfikir Nano Sain dengan membangun konsep hubungan berbagai penyakit ini dengan kadar logam Hg+metal yang ada dalam tubuh. Unsur-unsur tersebut merupakan penyebab utama munculnya berbagai penyakit yang sulit dikendalikan.

"Sebagai hasil karya ilmiah, maka penemuan ini semestinya dapat memandu pengembangan penelitian lanjut di dunia kedokteran terhadap berbagai komponen tembakau dan cengkeh pada rokok kretek Indonesia," imbuhnya.

 

Senin, 30 Juli 2012

Filter Rokok Sehat

Profesor Sutiman Bambang Sumitro, Penemu Filter Rokok Sehat.





Di tengah maraknya kontroversi soal bahaya merokok, kini muncul penemuan menarik tentang rokok sehat. Yakni, karya Prof Sutiman Bambang Sumitro MS DSc, guru besar Universitas Brawijaya (UB), Malang, yang berhasil menggemparkan dunia kesehatan. Seperti apa?


Di meja kerja Sutiman B. Sumitro yang berlokasi di laboratorium FMIPA jurusan biologi lantai II UB (Universitas Brawijaya), terlihat tiga bungkus filter rokok. Per bungkus berisi sekitar 30 filter rokok.

Filter-filter rokok itu dikemas dalam plastik transparan. Filter tersebut berdiameter sekitar 7 milimeter dengan panjang 2 sentimeter. Bungkusnya berukuran 7 x 9,5 sentimeter.

Plastik pembungkus tersebut tidak dibuat polos, tapi ada tulisan yang mudah dibaca walau berukuran kecil. Di tengah plastik pembungkus terdapat lingkaran berdiameter 3 sentimeter yang bertulisan Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas Malang. Di bawahnya ada tulisan Filter Rokok Sehat dengan ukuran huruf sedikit lebih besar.

Dengan begitu, tulisan tersebut mudah terbaca ketika pandangan singgah ke pembungkus filter itu. Paling bawah, tertera alamat Jl Surabaya No 5, Malang, lengkap dengan nomor telepon 0341-570631. Di bagian sudut kiri ada banderol Rp 10 ribu.

Begitulah gambaran penemuan Sutiman tentang filter rokok sehat yang mengangkat tema Inovasi Mereduksi Dampak Negatif Merokok dan Memperkuat Dampak Positif Merokok dalam Memperbaiki Kualitas Hidup.

Berdasar penelitian guru besar biologi sel dan molekuler UB itu, filter rokok tersebut disebut divine cigarette. Diamati sepintas, bentuknya mirip filter pada rokok. Warnanya juga sama, yakni putih. "Saya kadang memopulerkan penelitian saya dengan sebutan Nano Biologi Jawaban Keretek Sehat," ungkap Sutiman kepada Radar Malang (Group JPNN) kemarin.

Sebelum mengupas panjang lebar hasil penemuannya, pria kelahiran Jogjakarta, 11 Maret 1954, itu meminta waktu untuk menyampaikan secara singkat asal-muasal ketertarikannya meneliti rokok. "Saya memang bukan perokok. Seorang peneliti justru harus mengabaikan unsur subjektivitas dan mengedepankan objektivitas," ungkap alumnus S-1 Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Dasar penelitian Sutiman terkait dengan permasalahan bangsa yang dirasa menuntut penyelesaian dengan kearifan lokal. Salah satu yang disorot adalah masalah rokok. Banyak peneliti yang menyebutkan bahaya merokok. Di sisi lain, rokok sudah menjadi sebuah industri besar. Di dalamnya melibatkan banyak unsur, yakni ekonomi, ribuan tenaga kerja, serta dampak lain yang perlu pemikiran bersama ketika industri tersebut berhenti.

"Pemikiran saya, terciptanya rokok keretek yang dibuat nenek moyang kita dulu bukan tanpa dasar. Rokok keretek dibuat untuk obat batuk," ungkap pria yang mengambil program doktor di Nagoya University, Jepang, tersebut.

Sayangnya, fakta ilmiah itu tidak pernah diperhatikan pemerintah, terlebih oleh industri rokok keretek di Indonesia. Mereka tidak memiliki hasil riset dan pengembangan produk yang memadai.

Padahal, ditinjau dari aset serta volume perdagangan rokok di Indonesia, riset seputar rokok sesungguhnya gampang direalisasikan. Seiring dengan arus globalisasi, rokok keretek yang merupakan produk kearifan lokal itu dilanda isu sebagai produk tidak sehat tanpa didukung data hasil riset memadai.

Ironisnya, isu rokok tidak sehat tersebut berembus dari luar negeri serta dibangun melalui kegiatan riset asing. Sementara itu, potensi lokal kurang percaya diri untuk melakukan inovasi tentang rokok sehat. Apalagi, ide tentang rokok sehat terkesan menentang arus. "Muncul pemikiran saya untuk ikut mengkaji bahaya rokok. Apakah memang sudah final asap rokok itu berbahaya?" ujarnya.

Ketertarikan Sutiman untuk meneliti rokok dimulai pada 2007. Secara garis besar, prinsip yang dia lakukan kala itu adalah menghilangkan radikal bebas dari asap rokok. Selain itu, memodifikasi makro molekul yang terkandung dalam asap rokok lewat sentuhan teknologi dengan ukuran lebih kecil.

"Divine cigarette ini ada senyawanya, sehingga mampu menjinakkan radikal bebas. Tapi, senyawanya apa saja, itu yang masih dalam proses dipatenkan," ucap guru besar UB yang kini diperbantukan sebagai dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, tersebut.

Bagi perokok, penggunaan divine cigarette tersebut cukup mudah. Filter yang menempel di rokok diambil, selanjutnya diganti divine cigarette hasil penemuan Sutiman. Dengan begitu, divine cigarette menggantikan filter asli pada rokok. "Filter yang asli tinggal diambil dan diganti divine cigarette ini. Tidak rumit," jelas dosen yang juga bertugas di program doktor pendidikan biologi UM (Universitas Negeri Malang) itu.

Dari beberapa responden yang menggunakan divine cigarette tersebut, didapatkan data sesuai dengan tujuan penelitian. Di antaranya, merokok terasa lebih ringan. Bahkan, menghasilkan manfaat di luar yang dipikirkan. Di antaranya, saat merokok di ruang ber-AC, tidak timbul kabut tebal dan tidak meninggalkan bau di ruangan. Lebih dari itu, ada yang lebih penting bagi perokok pasif. Perokok pasif lebih aman ketika berdekatan dengan si perokok.

Hasil diskusi dengan rekannya sesama dosen UB, Yudi Arinto Ponco Wardoyo PhD yang mengambil disertasi soal asap, banyak memberikan support bagi penelitian Sutiman. "Saya sering berdiskusi dengan beliau (Yudi). Saya mendapat banyak masukan untuk memecahkan bahaya kandungan asap rokok," ungkap dosen yang sudah melahirkan puluhan karya penelitian tersebut.

Menurut Sutiman, asap rokok berasal dari pembakaran tidak sempurna yang menghasilkan ribuan komponen berbahaya. Dari komponen tersebut, berhasil ditemukan sekitar lima ribu komponen yang bisa diamati seperti aseton (cat kuku), toluidin (cat) metanol (spiritus bakar), polonium (bahan radioaktif), arsen (racun tikus), serta toluene (pelarut industri). "Hipotesis saya, radikal bebas dari asap rokok memang berbahaya. Tapi, komponen racun yang terkandung itu bisa diminimalisasi," tegas dosen yang memiliki bidang keahlian sel biologi tersebut.

Dia menyebutkan, hasil penelitian dalam bentuk divine cigarette tersebut merupakan fase-fase awal. Karena itu, Sutiman masih merancang penelitian lanjutan. Dua kajian yang sedang dilakukan adalah mengarakteristik jenis-jenis asap dan mengumpulkan data-data dari pengguna divine cigarette. Total ada 200 responden yang dilibatkan dalam penelitian tersebut.

Mengenai divine cigarette, Sutiman mengaku respons masyarakat, terutama dari kalangan perokok, cukup banyak. Kendati belum diproduksi masal, setidaknya dalam sehari ada permintaan sekitar 30 pak divine cigarette. "Hasil penjualan itu digunakan untuk membiayai penelitian yang sudah saya rancang," katanya.

Demi uji coba divine cigarette tersebut, Sutiman mendirikan laboratorium swasta yang diberi nama Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang. Labotarium sebagai tempat produksi tersebut juga digunakan untuk mengumpulkan kajian riset. "Saya memiliki donatur tetap yang bersifat individu untuk membiayai penelitian saya ini," jelas pria murah senyum tersebut.

Menghadapi kontroversi bahwa rokok mengakibatkan gangguan kesehatan, Sutiman sementara mengambil langkah aman. Di antaranya, kapasitas produksi divine cigarette masih dibatasi, belum menawarkan hasil penelitiannya kepada perusahaan rokok, dan tidak menggunakan sistem marketing untuk mengenalkan hasil penelitian tersebut. Dia beralasan semua masih dalam tahap penyempurnaan.

Minggu, 29 Juli 2012

Divine Kretek

Divine Kretek, Kontribusi Rokok di Dunia Kesehatan

Selama ini, stigma negatif selalu melekat pada produk rokok. Dunia kesehatan telah memvonis rokok sebagai penyebab munculnya sejumlah penyakit degeneratif, seperti jantung, paru-paru dan kelainan pada janin.Namun, stigma negatif itu mungkin akan berubah setelah ditemukannya zat dalam asap rokok yang berkhasiat menyembuhkan sejumlah penyakit.


“Rokok itu tidak selalu berbahaya bagi kesehatan. Berdasarkan perkembangan penelitian rokok terbaru, ternyata asap rokok bisa menyembuhkan berbagai penyakit,” kata Koordinator Masyarakat Bangga Produk Indonesia (MBPI), Fahmi Idris, di sela peluncuran buku Divine Kretek, Rokok Sehat, di Jakarta, Selasa (28/02).

Fahmi merujuk pada  sebuah temuan suatu zat yang bisa menetralisir zat-zat berbahaya dari asap rokok. Zat itu bernama divine kretek yang ditemukan oleh ahli kimia radiasi Indonesia Dr Gretha Zahar.
Rokok yang sudah ditetesi zat divine kretek maka asapnya tidak berbahaya bahkan bisa menyembuhkan penyakit. Dr Gretha menemukan Scavenger yang menghasilkan devine kretek, scavenger dihasilkan dengan teknologi nano.

Menurut Fahmi Idris, penemuan itu, sebagaimana penemuan ilmiah,  memang masih perlu terus diuji untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dan meyakinkan. Walaupun begitu, temuan ini bisa menjadi momen untuk memberikan pemajaman kepada masyarakat kalau rokok tidak selamanya buruk.

“Bahwa rokok tidak sebagaimana yang dinyatakan selama ini adalah lonceng kematian bagi siapa saja yang menghisapnya. Buktinya, ada khasiat yang bisa diperoleh dari rokok,” ujarnya. Mantan menteri perindustrian ini juga yakin kalau temuan terbaru dari rokok itu bisa mengubah roadmap industri rokok di 2015 yang menyatakan rokok akan dibatasi atau paling tidak dimundurkan pemberlakuannya.

Fahmi juga mengingatkan bahwa  saat ini ada gerakan masif untuk meniadakan rokok kretek yang merupakan khas Indonesia seperti kasus diskriminasi rokok kretek oleh AS. Terkait gerakan itu, Fahmi meminta pemerintah harus terus membela kepentingan produk Indonesia agar tidak tersingkir oleh serbuan produk asing atau impor.

“Di sisi lain, masyarakat bangga produksi Indonesia ini, ingin mepertahankan produk-produk khas Indonesia. Gerakan kontra ini apalagi menghilangkan rokok kretek yang maksudnya menggantikan dengan produk lain, ini perperan yang besar di industri farmasi kalau ini dilakukan matilah petani tembakau dan cengkeh,” tegasnya.

Sabtu, 28 Juli 2012

Pengobatan Melaui Media Rokok

Gretha Pramutadi Zahar: Ilmuwan dan Tabib yang Melakukan Pengobatan Melalui Media Rokok. 


Gunakan pengamatan berskala seluler terhadap mekanisme tubuh Anda, Anda akan melihat organ, jaringan, protein, sel dan sebagainya. Gunakan pengamatan berskala atomik, Anda akan menemukan bahwa di balik organ, jaringan dan sel itu terdapat atom karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen, dan sebagainya. Selanjutnya gunakan pengamatan berskala sub-atomik, skala yang jauh lebih kecil daripada atomik. Apa yang akan Anda temukan? Ternyata di balik atom-atom penyusun tubuh Anda itu terdapat interplay yang tak putus di antara proton, netron dan elektron. Anda berada dalam ranah yang banyak dibicarakan oleh fisika modern, nuclear science, bahkan nanobiology. Demikian pelajaran yang saya peroleh dari Gretha Zahar, seorang pakar nuclear science yang mengelola klinik di beberapa kota dan Lembaga Peluruhan Radikal Bebas di Malang.


Tidak mudah memahami penjelasan bu Gretha. Fisika modern, kimia nuklir, ditambah dengan nanoteknologi, ketika disatukan dalam uraian, menjadi menu yang lumayan berat untuk dicerna. Namun ternyata dalam praktek semuanya sangat sederhana. Obat segala penyakit itu ternyata ada di dapur kita sendiri: ada telur, kopi, garam, bawang, air kelapa, fermipan … Hanya satu obat yang tidak biasa: rokok! Rokok terapi ini diramu secara khusus, asapnya ditiupkan ke lubang telinga, hidung, dan mulut pasien melalui sebuah pipa. Pasien dibaringkan di atas papan tembaga, dibalur dengan 7 macam ramuan, sementara terapi asap dilakukan di sela-sela proses tersebut. Sungguh aneh melihat sebuah penemuan canggih dipraktekkan dengan begitu mudah dan sederhana, sesederhana pengobatan ala kampung jaman baheula.


"Alam sudah menyediakan semuanya", kata Profesor Dr. Sutiman Bambang Sumitro, seorang mikrobiolog dari Universitas Brawijaya Malang yang menjadi mitra kerja bu Gretha. "Orang cenderung mempercayai peralatan canggih, padahal peralatan itu bisa jadi digunakan untuk menutupi konsep yang tidak canggih. Sedangkan Alam selama ini bekerja berdasarkan konsep yang canggih. Telur, garam, bawang, kopi, tembakau dan sebagainya itu semua merupakan peluruh radikal bebas yang luar biasa", tambahnya.


Mengapa telur mentah? "Karena telur mentah merupakan protein hidup. Telur mentah itu internally driven. Putihnya menangkap radikal bebas dalam tubuh kita, termasuk merkuri yang juga internally driven. Sedangkan merah telur mengandung bahan stem cell", kata bu Gretha. "Tidak perlu takut pada bakteri salmonela atau virus yang mungkin ada pada telur mentah", kata bu Gretha seolah membaca pikiran saya. "Karena dalam kopi ada karbon yang berfungsi seperti norit yang melumpuhkan racun."






Tidak perlu takut pada bakteri dan virus? Sungguh menyenangkan membayangkan dunia yang sedang disiapkan oleh bu Gretha dan kawan-kawan ini ! "Bakteri dan virus, semua itu hanyalah protein hidup yang mengalami mutagenik. Mereka menamainya bakteri, jika ukurannya 10 pangkat minus 5. Tapi ketika ukurannya nano, mereka menamainya virus", kata bu Gretha sambil mempermainkan rokoknya. "Yang lebih penting untuk diselidiki adalah penyebab mutagenik protein tersebut, yaitu radikal bebas, terutama merkuri. Merkuri mempunyai 13 macam panjang gelombang yang bisa digunakan untuk mengacaukan dan menyesatkan codon dalam pembentukan protein (codon adalah kode genetik yang menentukan sintesa protein, Red.) Merkuri dalam tubuh akan menarik lebih banyak merkuri.


Hebatnya, merkuri punya energi dinamika yang cukup besar untuk membantunya melakukan transisi elektron, sebuah cara baginya untuk ‘menyamar’ menjadi partikel lain", katanya sambil meluruskan kakinya di lantai. Sekarang menjadi jelas mengapa selama ini berbagai penelitian belum bisa ‘menangkap basah’ merkuri dan perilakunya di tubuh kita. "Merkuri hanya perlu tambahan 1 elektron untuk menjadi logam berat seperti thalium, atau 2 ekstra elektron untuk menjadi timbal. Padahal elektron-elektron itu tersedia dalam jumlah besar di Alam sebagai akibat dari melimpahnya jumlah radikal bebas ", tambahnya lagi.

"Jadi penyembuhan segala macam penyakit pada dasarnya hanyalah memperbaiki kemampuan tubuh dalam mengendalikan polutan. Detoksifikasi adalah yang paling relevan. Jika kita tahu caranya, tak ada penyakit yang perlu ditakuti, termasuk flu burung, flu babi dan sebagainya", kata bu Gretha. Ia lalu memamerkan foto-foto klinis dan eksperimennya yang sangat menakjubkan selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Kanker dan autisme merupakan persoalan sederhana di matanya, apalagi penyakit stroke, jantung dan sebagainya.


Bu Gretha dan klinik-kliniknya telah membantu ratusan orang yang sudah tidak bisa ditangani oleh rumah sakit. Namun gaya hidupnya sangat bersahaja. Tempat duduk favoritnya adalah lantai, kosmetiknya hanyalah ramuan yang terbuat dari putih telur dan air kelapa. Tanda-tanda kemewahan ‘hanya’ terlihat pada matanya yang selalu polos namun energik, tubuh yang elastis, berotot, bugar, serta kulit wajah yang bersih. Tidurnya sedikit, namun ia masih mampu push-up 25 kali dan berenang 90 menit tanpa jeda di usianya yang menjelang 70. (Kami sering menggodanya dengan sebutan ‘nenek-nenek aneh’, karena bukannya membekali diri dengan minyak angin dan syal penghangat seperti nenek pada umumnya, ia malah membawa rokok dan berbagai ramuan kemana-mana untuk mengurus siapapun yang dijumpainya di jalan dan sedang bermasalah ! J)


Restless and fearless, itulah yang saya lihat pada bu Gretha. Dalam pencariannya yang tak kenal menyerah, ia sempat mengalami berbagai hinaan dan pengusiran oleh ilmuwan-ilmuwan lain. Namun dengan gigih ia terus berjuang, salah satunya dengan mencoba membuktikan hipotesanya lewat pengabdian di sebuah rumah sakit swasta dan beberapa panti asuhan. Dukungan dari kalangan universitas dan dari kalangan medis akhirnya mengalir. Tapi ia belum puas juga. "Alam sedang sedih karena banyak dimanipulasi oleh manusia", katanya suatu hari, dengan nada sedih yang tak berhasil disembunyikan. "Kita mengambil terlalu banyak dari Alam, ini menyulitkan Alam dalam melakukan recycling terhadap beratus-ratus ton radikal bebas yang berkeliaran di sekitar kita.

Sementara itu hutan dan lautan yang menjadi mesin pendaur-ulang utama itu mengalami kerusakan yang amat parah," katanya lagi. Pak Sutiman lalu menambahkan: "Alam sekarang mengalami kesulitan dalam melakukan siklus berbagai material. Manusia sebagai bagian dari Alam pun mengalaminya." Lalu, setelah menyalakan rokok yang entah ke sekian, pak Sutiman -yang sebelumnya sama sekali bukan perokok itu- melanjutkan:"Kerusakan Alam kini menempatkan manusia pada posisi degeneratif, artinya manusia menghadapi ancaman kegagalan dalam menjalankan kemampuan normal. Itu sebabnya penyakit manusia bergeser ke arah difficult diseases."


Tapi bu Gretha tidak pernah membiarkan dirinya sedih berlama-lama. Intuisinya yang liar dan tajam membuatnya segera sibuk memikirkan gagasan-gagasan baru. Alur pikirannya melompat-lompat dengan lincah, tak banyak orang yang memiliki kemampuan untuk mengimbanginya. Ketika pak Sutiman pada suatu kesempatan resmi menguraikan pemikiran bu Gretha dalam bahasa yang lebih runut, bu Gretha tercengang-cengang sendiri: "Benarkah itu hasil pemikiranku? Aku tidak mengira akan seindah itu…", katanya dengan ekspresi yang lucu.


Keindahan itu juga terlihat dalam proses pengobatan ala bu Gretha. Sebelumnya, dalam sebuah eksperimen, bu Gretha mencoba melepaskan radikal bebas dari sebuah protein buatan. Radikal bebas itu baru terlepas sesudah dihantam dengan beban sebesar … 8 ton ! Namun ketika protein yang mengandung radikal bebas itu ditepuknya dengan ‘mengaktifkan rasa kasih-sayang’, radikal bebas itupun terlepas. Artinya, beban 8 ton itu kurang lebih setara dengan tepukan penuh kasih-sayang ! Itu sebabnya pelayanan penuh kasih-sayang menjadi bagian yang paling penting dalam terapi yang dikembangkannya.

Itu sebabnya pula, di papan tembaga, pasien anak-anak dibaringkan di atas tubuh ayah atau ibunya, agar terjadi ikatan batin yang lebih dalam di antara keduanya. Ikatan kasih-sayang ini sangat berguna untuk mendorong kesembuhan. Dalam klinik-klinik asuhan bu Gretha dan kawan-kawan selalu ditekankan pentingnya partisipasi keluarga dalam proses penyembuhan. Kesembuhan seorang pasien dipengaruhi oleh kesehatan anggota keluarganya. "Bahkan menyehatkan diri sendiri itu sama dengan menyehatkan lingkungan", demikian kata pak Sutiman.

Keindahan yang lain juga diperlihatkan di akhir terapi. Berbagai ramuan yang sudah dibalurkan ke tubuh pasien itu ditampung, sebagian dibiarkan tersisa di papan tembaga, sebagian diteteskan pada cawan petri. Hasilnya sungguh menakjubkan! Hanya beberapa menit dijemur di bawah matahari, kita akan segera melihat kristal yang bisa mengisahkan ’siapa kita’. Jika Anda sehat, pada papan tembaga maupun cawan petri itu akan terlihat lukisan kristal yang penuh, simetris, fraktal, dan memiliki pola yang sangat indah. "Tubuh manusia itu merupakan pabrik nano material yang paling hebat. Ketika cairan nano dari tubuh kita memperlihatkan keteraturan dan keindahan, itu menunjukkan bahwa tubuh kita memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan keteraturan dan harmoni", demikian pak Sutiman menjelaskan sambil mengepulkan asap rokoknya.

Dua tahun terakhir ini, rokok merupakan bagian yang sangat penting dalam klinik binaan bu Gretha dan kawan-kawan -yang sebelumnya tidak satupun yang perokok. Rokok yang dinamai Divine Klobot itu mengandung asam amino, diproses sedemikian rupa sehingga bebas dari radikal bebas, dan menghasilkan partikel yang berukuran jauh lebih kecil. "Dengan terapi asap, radikal bebas yang keluar dari tubuh akan berukuran kecil, sehingga pasien tidak perlu mengalami siksaan seperti luka-luka yang besar dan basah atau aroma tubuh yang sangat mengganggu", kata bu Gretha. Proses penyembuhan menjadi jauh lebih cepat, bahkan selama proses pengobatan pasien bisa tetap menjalani kehidupan normal tanpa diet khusus, asalkan ia bersedia secara teratur ….. merokok!


Sungguh sebuah paradoks yang mengesankan. Limbah ramuan balur bisa menjadi kristal yang bercerita, dan rokok yang sekarang sedang dihujat telah dimuliakan menjadi obat! "Tidak ada yang baru pada tembakau dan nikotin. Ratusan tahun yang lalu, bangsa Indian telah menggunakannya sebagai obat; mereka bahkan menamai tembakau sebagai tanaman dewa. Nikotin juga telah lama diteliti dan diakui mengandung banyak manfaat, bahkan ia dijuluki ‘gold nicotine’. Unsur kimianya yang berjumlah 11000 macam itu membuatnya sangat istimewa. Jika dilihat secara parsial, unsur-unsur kimia itu memperlihatkan ‘kejahatan’nya. Tapi jika partikel-partikel tersebut dilihat secara utuh, rokok memperlihatkan adanya potensi untuk menyelenggarakan keteraturan dan harmoni.

Rokok tidak membahayakan generasi terdahulu, juga tidak generasi sekarang. Yang berbahaya itu radikal bebasnya, dan radikal bebas ada dimana-mana", jelas pak Sutiman panjang lebar. Bu Gretha lalu menimpali: "Dengan menggunakan cetakan nano pada filter, densitas elektron meningkat, sehingga kandungan merkuri pada tembakau akan siap melepaskan elektron. Dan ketika merkuri kehilangan 1 elektron, ia bukan lagi merkuri. Ia merupakan partikel emas atau aurum, tepatnya artificial aurum." Saya jadi ingat sebuah artikel tentang partikel aurum. Dalam ukuran nano, ia sudah lama dikenal sebagai nanomaterial yang efektif membunuh sel kanker tanpa merusak sel lainnya.

Bu Gretha lalu menunjukkan selembar kertas yang ia katakan sebagai ‘penemuan yang sangat mengagumkan’, yaitu tabel periodik kimia, tabel ciptaan Mendeleyev yang pernah kita pelajari di SMA. Ia menjelaskan, bahwa merkuri dengan nomor atom 80 bisa dengan mudah ‘menyamar’ menjadi thalium dan timbal hanya dengan tambahan 1-2 elektron. Merkuri juga bisa berubah menjadi artificial aurum atau emas -yang bernomor atom 79- hanya dengan mendonasikan elektronnya … Pernyataan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pembuktian. Bersama teman-teman, saya menguji pengaruh Divine Klobot terhadap aura.

Dengan menggunakan aurameter milik bu Gretha, saya dan teman-teman menyaksikan, bahwa terapi asap lambat-laun akan membentuk aura berwarna emas di tubuh kita. "Sungguh terobosan yang hebat", kata Kang Aas Rukasa, seorang guru senam pernafasan dan meditasi. "Aura emas hanya mungkin diperoleh melalui latihan pernafasan yang intensif yang disertai pengerasan tubuh. Aura emas mencerminkan kematangan di chakra jantung, chakra yang berhubungan dengan kasih sayang, kelenturan, keterbukaan, dan respon seni", kata Kang Aas. "Aura emas merupakan jembatan tercepat antara tubuh dan pikiran; artinya seseorang dengan aura emas akan memiliki kecerdasan tubuh dalam menerjemahkan dimensi pikiran. Aura emas bukan hanya mencerminkan kesehatan yang prima dan kelenturan tubuh dalam menghadapi gangguan, aura emas ini juga berbicara tentang potensi untuk menyembuhkan orang lain", demikian ia menambahkan.

Saya jadi teringat kisah-kisah klasik tentang para alkemis yang selalu terobsesi untuk mengubah apapun menjadi emas. Tidak disangka bahwa rahasia alchemy itu tak jauh-jauh dari kita, dan tampaknya tidak terlalu sulit bagi kita untuk mempelajarinya. Siapa tahu kita bisa menjadi the alchemy berikutnya?

Dasar-dasar bagi tumbuhnya future science itu telah disiapkan oleh bu Gretha dan kawan-kawan. Ini adalah sains multidisiplin yang tak hanya yang holistik, tapi juga unik, karena membawa dan mewujudkan mimpi terdalam umat manusia sejak masa klasik. Saya dan teman-teman tidak henti-hentinya kagum melihat seorang ilmuwan yang sekaligus ‘tabib’, seorang yang sesaat berbicara tentang ilmu-ilmu canggih dalam bahasa campuran Indonesia dan Inggris, lalu ia membalur dan meniupi pasien dengan bertelanjang kaki, tanpa sarung tangan dan penutup hidung. Di waktu pagi, senja dan tengah malam, ‘tabib’ ini menyempatkan dirinya membalur diri dengan kopi, ramuan kelapa dan putih telur, atau garam.


Di waktu senggangnya ia hanya memerlukan lantai untuk sekedar membaringkan tubuhnya, sambil meniupkan asap Divine Klobot ke dalam telinganya. "Lantai baik untuk kesehatan, karena Bumi menetralisir kelebihan arus listrik yang menyebabkan adanya ritme tidak harmonis di tubuh kita. Garam bagus untuk menangkap radikal bebas yang ada di tubuh kita. Pengobatan terbaik adalah menggunakan tangan telanjang, bukan tangan bersarung, apalagi mesin, karena… tahukah engkau, bahwa tubuh manusia adalah cetakan nano terhebat di dunia?", begitu katanya sambil tersenyum, seolah membenarkan ritual para tabib tradisional kita yang sudah lama menggunakan garam, telur, tangan telanjang, juga lantai dalam praktek pengobatan mereka. Sungguh sangat sesuai dengan namanya: Gretha artinya mutiara, Zahar itu brightness, revealed, grounded.

Jumat, 27 Juli 2012

Asap Rokok dan Dampak Terhadap Kesehatan


Siapa bilang asap rokok selalu berdampak negatif terhadap kesehatan perokok maupun orang di sekitarnya..? Pemahaman ini terbantahkan oleh hasil penelitian yang dilakukan Kelompok Studi Nano Sain dari Universitas Brawijaya Malang. Bahkan dengan asap rokok, kualitas hidup penderita penyakit degeneratif bisa diperbaiki.

Penemuan ahli kimia-fisika alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Gretha Zahar tentang “biradikal” dan dikembangkan lebih lanjut melalui sentuhan nano biologi bersama Prof. Sutiman B Sumitro, Guru Besar Ilmu Biologi Sel Universitas Brawijaya Malang, sejak tahun 2005 ini telah menghasilkan “larutan divine”. Jika rokok kretek yang diberi, ditetesi atau diolesi larutan tersebut, maka asap rokok yang terbentuk menjadi asap divine, yang dinamakan divine kretek.

Sutiman menjelaskan, dari hasil penelitian yang dilakukan bersama kelompok Nano Sain yang beranggotakan beberapa peneliti dari bidang kedokteran, kimia dan fisika ini menciptakan Divine Kretek yang berfungsi sebagai pengendali bahaya radikal bebas dan logam merkuri dalam darah, sekaligus mentrasformasikan rokok beracun menjadi rokok berasap sehat, tidak berbau dan ramah lingkungan.

Sedangkan pengelola “Rumah Sehat” dr Saraswati Subagjo MPsi mengatakan, dengan Divine Kretek penderita kanker dapat disembuhkan. Alasannya, proses detoxifikasi pembaluran kulit dengan menggunakan berbagai bahan peluruh radikal bebas yang dikombinasikan dengan asap rokok Divine Kretek yang berbentuk filter dan cair itu dapat mengangkat merkuri dan logam berbahaya lainnya dari dalam tubuh.
Sementara itu, Guru Besar Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro Semarang, Prof Sarjadi, mengatakan penemuan divine kretek sebagai mahakarya dan terbesar dalam ilmu pengetahuan yang menjadi tonggak peningkatan kesehatan berdasarkan kearifan lokal.

Kamis, 26 Juli 2012

Lukisan Bio (Ir. Aas Rukasa)

Ini adalah postingan yang ku ambil dari postingan milik Mikke Susanto. Kekaguman ku pada lukisan karya Ir. Aas  Rukasa lah yang membuatku ingin ikut memperkenalkan karya beliau di blog ini. 


BIO: Warna, Terapi & Spiritualitas
(Pengantar Kuratorial)
 
Oleh Mikke Susanto

Mari sejenak kita perhatikan satu tarikan nafas dalam sebuah proses meditasi. Meskipun ’hanya’ satu tarikan, proses itu memiliki nilai, fungsi dan efek yang besar. Tentu saja tidak semua atau setiap orang mampu memaksimalkan tarikan napasnya dalam proses itu. Semua bergantung pada latihan yang dilakukan, atau level yang diperolehnya serta kemampuan konsentrasi dan kondisi seseorang pada saat melaksanakannya. Terlepas dari itu semua, alam tentu saja juga memberi pengaruh secara optimal.
Dari proses ini, hal-hal tertentu dapat dihasilkan. Seperti halnya pameran yang Anda nikmati ini. Semua ini merupakan hasil dari pergulatan dan pembauran antara proses estetik dan/sekaligus meditatif. Kedua hal tersebut kemudian diberdayakan untuk merespon berbagai persoalan. Terdapat banyak bayangan, fantasi serta ilusi yang memenuhi hampir pada setiap hal yang disentuh oleh pelukisnya.
Tentu saja pameran ini tidak berangkat dari persoalan kedalaman estetika seni (lukis) semata. Artinya karya-karya Aas harus disadari bukan sebagai sebuah karya seni semata dan dinilai dari perspektif seni rupa saja. Karya-karya lulusan Teknik Mesin ITB (1994) ini lebih banyak dikembangkan dan berawal dari berbagai pengalaman dalam mengolah energi alam (bio-energi) yang dimilikinya. Pengolahan energi yang secara formal juga menyertai profesinya saat ini (sebagai guru meditasi dan seni olah tubuh berbasis bioenergi, dan pendiri komunitas Cosmic-Link Bandung) yang dimanfaatkan secara positif, salah satunya dengan cara melukis. Ia sendiri melakukannya secara alamiah (otodidak) yang telah dimulai sejak kecil.
Berangkat dari latar di atas, maka pameran ini dimaksudkan sebagai bentuk pertemuan antara seni dan alam. Sebuah ruang yang berhasil menciptakan berbagai paduan gagasan visual dan pengalaman berinteraksi dengan alam. Seperti halnya prana (bahasa India Kuno), chi (taichi dalam bahasa Cina), dan ki (reiki, dalam bahasa Jepang) yang merupakan suatu energi daya hidup yang mengalir setiap saat. Mereka memiliki kecenderungan untuk terus berinteraksi. Interaksi yang terjadi pada setiap materi atau makhluk hidup dengan berbagai perubahannya yang kemudian diolah secara natural (bio-meditasi).
Di sini, lukisan-lukisan Aas bukanlah menggambarkan proses dan teknis mengenai bioenergi tersebut. Lukisan-lukisannya juga bukan merupakan petunjuk ilmiah (baca: gambar ilustrasi alam) kala energi tubuh itu bergerak. Pameran--atau tepatnya lukisan-lukisan--ini bertujuan lebih mengangkat berbagai pengalaman batin dan spiritualnya dalam melihat berbagai pergolakan energi maupun alam. Sehingga dengan pendekatan gaya abstraksi, ia bergerak dengan leluasa untuk menghasilkan gambaran dari pengalaman-pengalamannya selama ini.
Gaya abstraksi sendiri merupakan sebuah gaya dengan metode untuk mendapatkan pengertian melalui penyaringan terhadap gejala atau peristiwa. Dalam seni rupa, proses ini kerap menjadi jalan untuk menangkap secara sederhana dari sebuah objek/ peristiwa/ gejala. Namun hasil tangkapan berupa penyaringan objek tersebut dalam karya Aas mendapatkan kesan tambahan yaitu naratif dan liris. Gambaran-gambaran idenya seolah-olah sering bersifat cerita dan memberi kesan penuh perasaan (baca setiap keterangan di samping karya-karyanya).

Warna: Psikologis atau Permainan
Secara umum warna memang tidak sekadar berusaha mempengaruhi perasaan saja. Dalam beberapa aspek, pada akhirnya warna juga turut mempengaruhi fisik seseorang. Getaran-getaran warna yang ditangkap mata dan otak, kemudian turut mempengaruhi bagian organ lain. Biasanya ia berkoresponden melalui sensasi lalu mempengaruhi jiwa seseorang. Sehingga ia dapat menimbulkan efek yang bermacam-macam: panas, dingin, lembut, keras, tegang, kendor dan sebagainya.
Kanvas-kanvas Aas jelas bertaburan warna-warna. Ia jarang memakai satu atau dua warna saja dalam karyanya. Hal ini berbeda ketika para kaum Abstrak di Jerman maupun Abstrak Ekspresionisme (tepatnya para pelukis Color Field Painting di Amerika) yang memanfaatkan sedikit warna saja untuk memenuhi bidang kanvasnya. Mengapa demikian?
Saya kira hal penting kala melihat warna dalam karya-karya Aas adalah kita sedang menonton mental yang sedang ’bekerja’. Mental yang diselubungi oleh berbagai warna dan kondisi. Sehingga yang tumbuh di dalamnya merupakan sintesis atas berbagai hal. Dengan banyaknya warna, lukisan-lukisan Aas bisa menjelajahi segala hal dan bisa pula menghasilkan ribuan persepsi.
Warna-warna itu berkesan sedang menjelajahi perasaan, kadang emosional, duka, semangat, garang dan sebagainya. Warna-warnanya mengingatkan saya tentang sebuah perjalanan alam dari sesuatu yang asing sampai yang sangat dekat dengan kita semua. Warna-warnanya seperti membentuk objek-objek baru yang dapat menghantar kita pada dataran kesadaran-kesadaran tertentu.
Selain persoalan mental, terdapat pula latar belakang kultur yang menyebabkan warna dalam lukisan Aas menjadi sangat bervariasi. Karena ia berada dalam wilayah budaya, kerja, serta kondisi yang plural, maka aksen psikologisnya ikut terdominasi. Maka dalam sudut-sudut tertentu, ia juga senang menggunakan warna untuk permainan bentuk-bentuk objek. Artinya semangat’menghias’ sangat terasa dalam setiap karya-karyanya. Oleh sebab itu, tak salah bila abstraksi yang dilakukan Aas dalam hal ini adalah liris: abstraksi dengan berbagai perasaan.

Terapi: Penyembuhan atau Kenikmatan
Dalam kanvas-kanvasnya lalu muncul abstraksi tentang bentuk-bentuk alam (manusia, hewan, tumbuhan, objek/benda, dan gerakan alam). Sehingga banyak yang menganggap lukisannya sebagai terapi bagi orang lain maupun sebagai ungkapan pribadi bagi dirinya sendiri. Dominasi figur yang masih menonjol, sekalipun telah mengalami deformasi atau penyederhanaan, tetap banyak memberi simbolisasi tertentu.
Namun yang lebih dari itu adalah seberapa jauh persoalan bentuk dan warna menjadi sesuatu yang ’berfungsi’, seperti sebagai sebuah terapi?
Perlu diketahui bahwa tidak semua lukisan yang dibuat oleh Aas berasal dari khayalan semata. Sesekali Aas juga mengemukakan berbagai hasil temuan yang direkamnya menjadi objek karya, meskipun tanpa sketsa. Misalnya lukisan yang berjudul Canda Teman di Ulang Tahun, merupakan rekaman aura dari suasana pesta, hal ini menyiratkan bagaimana ia mengungkap suasana dan kemudian ditafsirkan dalam bentuk visual. Atau misalnya karya-karya yang diangkat dari pengalaman yang berhubungan dengan teman atau koleganya. Hal-hal seperti ini pada akhirnya merumuskan berbagai pesan-pesan yang dapat diterapkan sebagai sebuah bentuk nasehat atau terapi bagi yang lain.
Jika  anda melihat kesenangan Aas mengeluarkan berbagai pernyataan (lihat setiap pesan dalam setiap karya) seolah-olah memberitakan sejauh mana pergulatan dirinya dengan ”objek” yang digelutinya. Ia tidak saja berpikir tentang visual, namun juga melakukan pergulatan maupun perjalanan meditatif atas suatu kajian yang hendak dilukisnya.
Setidaknya ia sedang menawarkan sebuah rekreasi warna sebagai bentuk terapi, entah untuk penyembuhan atau sekadar kenikmatan selubung warna, bagi para penontonnya. Secara khusus, dengan munculnya pernyataan pada setiap karya, penonton akan digiring untuk melakukan resepsi atas suatu objek, warna maupun suasana. Dengan kata lain, melalui pameran ini saya kira perjalanan menikmati sebuah karya tidak semata-mata dihidupkan oleh mata si penontonnya. Lewat pengantar dan konsep tertulis, pelukis dalam hal ini memberi ’peta perjalanan’ atas berbagai pengertian dan hal-hal lain di luar persoalan seni. Simulasi sedang digerakkan, pikiran sedang ditata, dan pengetahuan sedang dibuka. Nikmati saja...

Spiritualitas: Ilustrasi atau Kesadaran diri
Bicara perihal meditasi, tentu bicara perihal spiritualitas. Ia berhubungan dengan persoalan keilahian. Lebih jauh lagi berbagai bentuk meditasi melalui pernafasan, gerakan, mantra memiliki tujuan yang sama yaitu mencapai kesadaran sejati, pencerahan dan persatuan dengan Ilahi.
Secara singkat, bila merujuk dari berbagai karya lukis yang dihasilkan, tampaknya muncul beberapa hal penting dan menarik sehubungan dengan perihal spiritualitas.
Pertama munculnya banyak karya yang menggali persoalan energi alam. Maksudnya adalah berbagai masalah dan perihal energi tersebut kemudian diangkat sebagai bagian dari kesadaran tentang adanya kemampuan di luar masalah fisik, baik kemampuan alam maupun kemampuan diri manusia sendiri. Penonton diharapkan dapat mengekplorasinya dengan cara-cara tertentu misalnya untuk menggerakkan rasa cinta, penghargaan diri, keterbukaan, kemampuan beradaptasi, estetika, dan respon seni. Sebab kata Aas, ”Dari semua perasaan inilah kemampuan untuk fokus bisa ditumbuhkan”. Perasaan ini dapat dilihat seperti pada karya Mendengar Suara Hening, Accessing Magenta maupun karya Metamorfosis.

Kedua, terdapat pula karya-karya yang mencoba menggali dan bercerita tentang persoalan mistik dan hal yang bersifat spiritual, seperti pada kisah mistik pada karya Nini Anteh atau pada Kendi Tirta Kalimaya, dan karya A Little Thought about Paradox yang menceritakan pengalaman mistik Nabi Musa. Dalam hal ini lukisan-lukisan Aas tidak saja bercerita tentang suasana dan kisah-kisah mistik, namun juga mengarah pada kemampuan mistik energi alam yang ada di lingkungan sekitar kita (karya Twilight over Beach ) maupun kemampuan manusia (karya Stretching). Juga pada Gadis Lewat yang memberitakan perihal kemampuan daya tangkap seseorang pada sesuatu yang melintas cepat atau harus melewati berbagai cara pandang yang berbeda dari biasanya.

Ketiga, karya-karya Aas yang mencoba memberi kesadaran tentang hubungan antara manusia (dalam bahasa Arab: hablumminannas) dan hubungan dengan Tuhan (hablumminallah). Salah satu karya menarik yang dapat melukiskan hal ini adalah karya Menunjukkan Jalan maupun Mengajar Lotus. Satu karya mengali pertentangan antara hati dan logika, satu karya lain berupaya menguak perihal spiritualitas (baca pula: pengetahuan) yang tinggi. Karya Mengejar Lotus mengingatkan untuk tetap memiliki kerendah-hatian dan membumi. Artinya spiritualitas yang tinggi harus disempurnakan dengan tindakan yang multidimensi, dengan gerakan membumi.
Dari berbagai dimensi spiritual yang telah digambarkan di atas, dapat dicermati bahwa persoalan keilahian memang menjadi tajuk utama dalam karya-karya Aas. Ia tidak menggambarkan keindahan yang bersifat kasat mata, namun lebih ke persoalan psikologis. Dengan memakai pendekatan gaya abstraksi, saya kira semakin tepatlah ’simulasi’ yang dilakukan. Sebab dengan gaya tersebut ia dapat merangkum berbagai suasana psikologi yang beraneka warna, maupun mengaitkan kesadaran, ruang dan waktu secara bersamaan pula. Dapat dianggap bahwa apa yang tergambar dalam karya-karya Aas merupakan ’ilustrasi’ tentang konsep tentang persoalan meditasi yang sedang diarunginya selama ini. Lukisan-lukisannya seperti membantu para kolega (atau Anda sebagai penontonnya) untuk semakin cepat menangkap apa yang diungkapkan. Secara tidak langsung, lukisan dalam hal ini tidak terpisah dengan semangat dan ramuan ’ajaran-ajarannya’.
Dari apa yang dilukiskan Aas, satu hal penting yang menjadi perhatiannya adalah alam. Alam dalam hal ini tidak saja diolah secara objektif, tetapi ia dengan kreatif mengusung simbol-simbol baru yang berhubungan dengan semangat spiritualitas (dan juga moralitas). Lihat saja pada hampir semua lukisan, ia mengelola objek alam sebagai jalan untuk menemukan ’sesuatu yang lain’: sesuatu yang berhubungan dengan energi, sesuatu yang berhubungan dengan mental, bahkan sesuatu yang berhubungan dengan kekacauan yang kita hadapi saat ini (misalnya pada karya Konferensi Mawar Hijau yang memasalahkan penebangan hutan ilegal).
Jadi sudah saatnya, lewat karya-karya Aas, mari kita ungkap rahasia alam dan manfaatkan sejauh-jauhnya, tentu dengan kontrol, kreativitas dan kesadaran diri yang tinggi. Wallahualam bisawab.

Kamis, 05 Juli 2012

Sejarah Seni Lukis

Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar. Sedangkan kegiatan melukis sendiri merupakan kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan.Sejarah Seni Lukis akan diulas dalam beberapa tulisan, sebagai berikut :

Sejarah Umum Seni Lukis

Zaman prasejarah

Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan dedaunan atau batu mineral berwarna. Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.
Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai, kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua dimensi, dimensi datar).
Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan objek-objek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari objek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap objeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam objek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya.
Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.



  
Zaman Klasik

Seni lukis zaman klasik kebanyakan dimaksudkan untuk tujuan:
  • Mistisme (sebagai akibat belum berkembangnya agama)
  • Propaganda (sebagai contoh grafiti di reruntuhan kota Pompeii),
Di zaman ini lukisan dimaksudkan untuk meniru semirip mungkin bentuk-bentuk yang ada di alam. Hal ini sebagai akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan dimulainya kesadaran bahwa seni lukis mampu berkomunikasi lebih baik daripada kata-kata dalam banyak hal.



  
Zaman Pertengahan

Sebagai akibat terlalu kuatnya pengaruh agama di zaman pertengahan, seni lukis mengalami penjauhan dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sihir yang bisa menjauhkan manusia dari pengabdian kepada Tuhan. Akibatnya, seni lukis pun tidak lagi bisa sejalan dengan realitas.
Kebanyakan lukisan di zaman ini lebih berupa simbolisme, bukan realisme. Sehingga sulit sekali untuk menemukan lukisan yang bisa dikategorikan "bagus".
Lukisan pada masa ini digunakan untuk alat propaganda dan religi. Beberapa agama yang melarang penggambaran hewan dan manusia mendorong perkembangan abstrakisme (pemisahan unsur bentuk yang "benar" dari benda).


zaman Renaissance

Berawal dari kota Firenze. Setelah kekalahan dari Turki, banyak sekali ilmuwan dan budayawan (termasuk pelukis) yang menyingkir dari Bizantium menuju daerah semenanjung Italia sekarang. Dukungan dari keluarga deMedici yang menguasai kota Firenze terhadap ilmu pengetahuan modern dan seni membuat sinergi keduanya menghasilkan banyak sumbangan terhadap kebudayaan baru Eropa. Seni rupa menemukan jiwa barunya dalam kelahiran kembali seni zaman klasik. Sains di kota ini tidak lagi dianggap sihir, namun sebagai alat baru untuk merebut kembali kekuasaan yang dirampas oleh Turki. Pada akhirnya, pengaruh seni di kota Firenze menyebar ke seluruh Eropa hingga Eropa Timur.
Tokoh yang banyak dikenal dari masa ini adalah:
  • Tomassi
  • Donatello
  • Leonardo da Vinci
  • Michaelangelo
  • Raphael

Art Nouveau

Revolusi Industri di Inggris telah menyebabkan mekanisasi di dalam banyak hal. Barang-barang dibuat dengan sistem produksi massal dengan ketelitian tinggi. Sebagai dampaknya, keahlian tangan seorang seniman tidak lagi begitu dihargai karena telah digantikan kehalusan buatan mesin. Sebagai jawabannya, seniman beralih ke bentuk-bentuk yang tidak mungkin dicapai oleh produksi massal (atau jika bisa, biaya pembuatannya akan menjadi sangat mahal). Lukisan, karya-karya seni rupa, dan kriya diarahkan kepada kurva-kurva halus yang kebanyakan terinspirasi dari keindahan garis-garis tumbuhan di alam.